Rabu, 14 September 2016

Keren, Rumah ini Dapat Beradaptasi dengan Lokasi & Pemiliknya


Sekilas tampak tidak seperti rumah, nyatanya rumah yang bernama  Casa Invisible tersebut dapat beradapatasi sesuai dengan lokasi maupun pemiliknya. Rumah yang dikembangkan sejak tahun 2013 tersebut didesain serta dibangun oleh Delugan Meissl Associated Archtiects.

Rumah yang sangat mudah dibongkar serta dibangun kembali tersebut terbuat dari beberapa kayu yang telah difabrikasikan sehingga menghasilkan kualitas yang kokoh, namun ringan. Dampaknya, rumah tersebut secara mudah dapat dipindahkan ke berbagai lokasi lainnya.


Selain itu, rumah tersebut dapat dibentuk sesuai dengan keinginan pemiliknya tanpa merusak ataupun mengubah tanah yang dipilihnya. Rumah tersebut sangat hemat energi karena dapat menyerap tenaga panas matahari di siang hari sehingga kebutuhan listrik dapat terpenuhi. Sangat menarik bukan?

Selasa, 13 September 2016

Dekat dengan Tepi Pantai, Rumah ini Memanfaatkan Panas Matahari


Sebuah rumah yang terletak di bagian wilayah San Fransisco menjadi sebuah rumah spektakuler. Pasalnya, rumah yang terbilang mewah dan sejuk ini memanfaatkan panas mahatari secara maksimal.
Dampaknya, rumah tersebut hanya membayar setengah dari biaya energi yang dibutuhkan kepada perusahaan listrik setempat. Pemanfaatan energi matahari tersebut berdampak juga pada kebutuhan sehari-hari lainnya.




Salah satunya seperti penyediaan ari panas di saat musim dingin tiba. Selain itu, rumah tersebut pn dapat mengendalikan suhu udara secara otomatis bila musing panas ataupun dingin telah tiba. Sang pemilik rumah bahkan secara sengaja membuat pintu terbuka secara langsung menghadap pantai sehingga dapat memaksimalkan berbagai udara serta cahaya untuk ke dalam bagian rumah.

Berbahan Dasar Murni Kayu, Rumah ini Ramah Lingkungan


Rumah yang dijuluki bioclimatic tersebut sangat memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia di sekitar rumah tersebut. Uniknya, rumah tersebut pun memiliki tanaman yang berfungsi sebagai atap pelindung rumah tersebut.

Kelompok arsitek asal Perancis, Lyon Architecs memaksimalkan keberadaan sumber daya alam yang tersedia. Sehingga, lingkungan pun dapat terjaga dengan baik tanpa adanya satupun limbah ataupun kerusakan lingkungan yang signifikan.



Selain itu, rumah tesebut sangat mudah beradaptasi dengan berbagai iklim. Maka, rumah tersebut pun hanya membutukan sedikit energi baik di saat musim panas maupun musim dingin tiba. Rumah tersebut tentu saja dibutuhkan berbagai ahli arsitek agar di setiap susunan bangunan tersebut kokoh dan berfungsi dengan baik.

Dekat Dengan Sungai, Rumah ini Memberikan Energi Ramah Lingkungan


Sang arsitek Patrick Dillon membuat sebuah rumah yang juga memberikan kontribusi yang baik untuk lingkungan serta tetangga sekitarnya.

Pasalnya, rumah tersebut didesain secara khusus di tepi  sungai, dan dapat memberikan energi secara langsung kepada tetangga sekitarnya. Sebuah turbin sederhana di tepi sungai, serta solar panel dibuat khusus pada bagian atap rumah agar dapat memaksimalkan tenaga alam yang tersedia.

Meskipun rumah tersebut terbilang mahal, namun untuk konsumsi listrik rumah tersebut sangat ramah dengan lingkungan. Untuk membangun ulang rumah yang telah berdiri sejak 1997 tersebut dibutuhkan perjuangan yang cukup berat.




Pemilik rumah bahkan tidak sengaja sedang mengendarai perahu melewati bagian sungai tersebut, dan langsung seketika tertarik dengan rumah tersebut. Tak disangka, berbagai manfaat rumah tersebut dapat berdampak baik pada lingkungan sekitar. 

Memiliki 3 Taman, Rumah Ini Ramah Lingkungan


Berdasarkan riset yang berlangsung selama dua tahun, proyek yang terdiri dari tim kontraktor serta desain interior ternama asal Los Angeles, Amerika Serikat, rumah tersebut akhirnya berhasil dibangun lengkap dengan tiga buah taman yang mengitarinya.

Rumah yang berlokasi di Toro Canyon, Santa Barbara tersebut telah berhasil dibangun pada tahun 2012. Rumah tersebut memiliki luas sebesar 4700 kaki persegi, yang tersambung dengan berbagai pemandangan indah alam sekitarnya.

Konsep utama dari rumah tersebut adalah untuk menyeleraskan kehidupan yang berkesinambungan dengan alam sekitar. Sehingga, meskipun tetap membangun hunian, tetap dapat berkontribusi dengan alam sekitar.




Keindahan serta kekayaan alam dimanfaatkan oleh tim tersebut, sebagai sumber utama pencahayaan di siang hari serta sumber udara yang bersih, melalui menggunakan kaca besar serta jendela di setiap sudut ruangannya. Namun, penghuni rumah akan tetap terjaga privasinya karena terdapat sebuah jendela otomotis yang dapat tertutup dengan sebuah papan ringan, di malam harinya. 

Kamis, 08 September 2016

Bangunan Ramah Lingkungan Semakin Populer


Tren green building atau bangunan ramah lingkungan semakin populer dan mulai tersebar di seluruh dunia termasuk di pasar negara berkembang. Tren bangunan ramah lingkungan sejatinya dimulai pada awal abad 20, ditandai dengan adanya arsitektur hijau karya Frank Lloyd Wright, dan bangunan bersejarah seperti Falling Water. Sekarang, tren bangunan hijau telah dapat ditemukan di seluruh dunia.

Berdasarkan Survei Tren World Green Building yang dilakukan oleh McGraw Hill Construction, sebanyak 51 persen perusahaan mengharapkan lebih dari 60 persen proyek pembangunan mereka akan ramah lingkungan pada tahun 2015. Riset tersebut menunjukkan bahwa bangunan hijau sekarang telah menjadi bagian penting dalam bisnis.

Selain itu, tren bangunan hijau yang pesat tidak dibatasi oleh letak geografis, tetapi menyebar ke seluruh pasar kontruksi global. Salah satu contohnya adalah Clearpoint Residences yang terletak dekat Kolombo, Sri Lanka. Tempat ini dijuluki sebagai taman vertikal tertinggi di dunia dan pembangunannya dijadwalkan akan selesai pada April 2016.

Keseluruhan fasad bangunan ini ditutupi dengan rumput dan pohon mangga yang tidak hanya berfungsi sebagai dekorasi saja tetapi juga untuk mengurangi panas di dalam gedung karena dapat secara langsung menghalangi paparan sinar matahari dan memberikan udara segar.



Tanaman-tanaman itu akan berperan sebagai penghalang suara, memberikan kesan teduh serta membersihkan udara di sekitar. Dan oleh karena itu, dana yang digunakan untuk pembelian pendingin ruangan (AC) dapat dikurangi.


Untuk Indonesia, Bali sebagai tempat liburan favorit bagi para turis dari dalam maupun mancanegara dan terkenal akan keindahan alamnya, mulai mengedepankan unsur ramah lingkungan sebagai langkah menjaga kelestarian lingkungannya. Salah satunya bisa dilihat di Villa Mantra, Tabanan Bali. Resor yang terdiri dari 10 bangunan ini memiliki pengelolaan air dan kebun sendiri guna mengurangi sumber daya yang terbuang.

14 Ribu Lensa Kacamata Menjadi Dekorasi Museum Istanbul


Sebanyak 14 ribu lensa dari kacamata bekas menjadi sebuah instalasi seni, yang terpampang tepat di bagian bangunan Museum Pera, Kota Istanbul, Turki.



Instalasi seni tersebut didesain oleh seniman asal Kanada, Caitlind R.C Brown yang berkolaborasi dengan Wayne Garrett. Konsep utama dalam instalasi seni tersebut untuk mencari estetika serta pemantulan berbagai objek pada lensa tersebut.



“Setelah melihat berbagai kompleksitas kota, lensa tersebut akan terlihat semakin indah layaknya sebuah metafora dari berbagai pandangan masyarakat sekitar” ujar Caitlind kepada Curbed.

Lensa tersebut akan merefleksikan berbagai aktivitas padat di jalanan, berbagai pemandangan menarik dari Sungai Bosphorus, memantulkan cahaya matahari, dan bagian paling terbaiknya adalah lensa tersebut akan bergerak sesuai dengan pergerakan angin.




Dekorasi sekaligus instalasi seni tersebut secara tidak langsung menjadi sebuah refleksi dari keindahan  Kota Istanbul. Sangat menarik bukan?